inefisiensi finansial
/in.e.fi.si.ɛn.si fi.nan.si.al/
🇮🇩Bahasa IndonesiaEkonomiKeuanganBisnis
Ringkasan Makna
Ketidakmampuan dalam mengelola, mengalokasikan, atau menggunakan sumber daya keuangan secara optimal, sehingga menimbulkan pemborosan atau pengeluaran yang tidak perlu.
Penjelasan & Konteks Penggunaan
Inefisiensi finansial merujuk pada suatu kondisi di mana suatu organisasi, perusahaan, pemerintah, atau individu gagal memaksimalkan nilai atau output dari dana yang mereka miliki. Hal ini biasanya disebabkan oleh alokasi anggaran yang buruk, biaya operasional yang terlalu tinggi tanpa hasil yang sebanding, sistem pengawasan keuangan yang lemah, atau keputusan investasi yang keliru. Dalam skala makro, inefisiensi finansial dapat menghambat pertumbuhan ekonomi negara, sementara dalam skala mikro (perusahaan atau rumah tangga), hal ini dapat menyebabkan kerugian, defisit anggaran, hingga kebangkrutan.
Contoh Penggunaan dalam Kalimat
“Perusahaan itu akhirnya mengalami kebangkrutan akibat inefisiensi finansial yang berlangsung selama bertahun-tahun.”
→The company eventually went bankrupt due to financial inefficiency that persisted for years.
“Pemerintah berupaya memangkas birokrasi untuk mengurangi inefisiensi finansial dalam anggaran belanja negara.”
→The government is trying to cut bureaucracy to reduce financial inefficiency in the state budget.
Asal-usul & Konteks Budaya
Istilah ini diserap dari bahasa Inggris 'financial inefficiency'. Kata 'inefisiensi' berasal dari awalan Latin 'in-' (tidak) dan 'efficientia' (kemampuan menghasilkan hasil), sedangkan 'finansial' diserap dari bahasa Prancis kuno 'financier' yang berkaitan dengan pengelolaan uang. Di Indonesia, istilah ini sangat sering digunakan dalam konteks analisis ekonomi, laporan keuangan korporasi, serta kritik akademis maupun publik terhadap pengelolaan anggaran negara (APBN/APBD).