Japonisme
/ʒa.pɔ.nism/
🇫🇷Bahasa PrancisSeniSejarahBudayaSastraNetral
Ringkasan Makna
Pengaruh seni, estetika, dan budaya Jepang terhadap seni rupa dan budaya Barat, terutama di Eropa pada akhir abad ke-19.
Penjelasan & Konteks Penggunaan
Japonisme adalah istilah yang diciptakan pada paruh kedua abad ke-19 untuk mendeskripsikan pengaruh seni Jepang terhadap gerakan seni di Barat, khususnya pasca-dibukanya kembali perdagangan Jepang dengan dunia Barat oleh Komodor Perry pada tahun 1853. Cetakan balok kayu ukiyo-e, tembikar, kipas, dan tekstil Jepang yang awalnya digunakan sebagai bahan pembungkus barang ekspor justru memikat para seniman impresionis dan pasca-imimpressionis Prancis seperti Claude Monet, Edgar Degas, dan Vincent van Gogh. Pengaruh ini tampak jelas dalam penggunaan sudut pandang asimetris, ruang datar, garis kontur yang tegas, dan elemen alam pada karya-karya seni Barat masa itu.
Contoh Penggunaan dalam Kalimat
“Le japonisme a profondément influencé les peintres impressionnistes de la fin du XIXe siècle.”
→Japonisme sangat memengaruhi para pelukis impresionis pada akhir abad ke-19.
“La collection d'estampes japonaises de Van Gogh témoigne de sa fascination pour le japonisme.”
→Koleksi cetakan Jepang milik Van Gogh menjadi bukti ketertarikannya pada japonisme.
Asal-usul & Konteks Budaya
Istilah ini pertama kali dicatat dalam sastra Prancis pada tahun 1872 oleh kritikus seni Philippe Burty untuk mendefinisikan gelombang ketertarikan masyarakat Eropa terhadap estetika Jepang.