ketaksaan
/kə.tak.sa.an/
🇮🇩Bahasa IndonesiaBahasa IndonesiaLinguistikSemantikSastra
Ringkasan Makna
Keadaan bermakna ganda atau mendua arti; kesamaran yang menimbulkan lebih dari satu penafsiran.
Penjelasan & Konteks Penggunaan
Ketaksaan (sering disebut juga sebagai ambiguitas) adalah sifat, keadaan, atau hal yang taksa—yaitu memiliki lebih dari satu makna sehingga dapat menimbulkan keraguan, ketidakpastian, atau penafsiran yang beragam bagi pembaca atau pendengar. Dalam bidang linguistik, sastra, dan logika, ketaksaan bisa disengaja untuk menciptakan efek estetis (seperti dalam puisi atau humor), namun sering kali harus dihindari dalam penulisan ilmiah, hukum, atau teknis agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Contoh Penggunaan dalam Kalimat
“Penggunaan kalimat majemuk yang kurang tepat dalam laporan tersebut menimbulkan ketaksaan makna bagi para pembaca.”
→Penggunaan kalimat majemuk yang kurang tepat dalam laporan tersebut menimbulkan ketaksaan makna bagi para pembaca.
“Penyair sering sengaja memasukkan unsur ketaksaan ke dalam bait-bait puisi untuk memperkaya ruang interpretasi.”
→Penyair sering sengaja memasukkan unsur ketaksaan ke dalam bait-bait puisi untuk memperkaya ruang interpretasi.
Asal-usul & Konteks Budaya
Kata 'ketaksaan' dibentuk dari kata dasar 'taksa' (bermakna ganda) yang mendapat awalan ke- dan akhiran -an. Kata 'taksa' sendiri merupakan bentuk pungut atau adopsi dari bahasa Sanskerta yang dihidupkan kembali dalam pengembangan kosakata bahasa Indonesia modern untuk bidang linguistik.