meninggalkan diri
/mษ.ni.ลษกal.kan di.ri/
๐ฎ๐ฉBahasa IndonesiaSastraIdiomPsikologiNetral
Ringkasan Makna
Sebuah frasa sastra atau puitis yang merujuk pada tindakan melepaskan ego, identitas, atau kesadaran diri seseorang.
Penjelasan & Konteks Penggunaan
Frasa 'meninggalkan diri' bukanlah istilah teknis dalam bahasa Indonesia sehari-hari, melainkan ungkapan metaforis yang sering ditemukan dalam karya sastra, filsafat, atau refleksi spiritual. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana seseorang berusaha melampaui batasan ego, melupakan kepentingan pribadi, atau melepaskan keterikatan pada identitas diri demi mencapai ketenangan batin, objektivitas, atau penyatuan dengan sesuatu yang lebih besar (seperti Tuhan atau semesta). Dalam konteks psikologis, ini bisa berarti upaya untuk tidak membiarkan ego mendominasi pengambilan keputusan.
Contoh Penggunaan dalam Kalimat
โDalam meditasi yang dalam, ia mencoba meninggalkan diri agar dapat melihat masalahnya dengan lebih jernih.โ
โIn deep meditation, he tries to leave his self behind so he can see his problems more clearly.
โSeni yang agung menuntut seniman untuk meninggalkan diri dan membiarkan karyanya berbicara sendiri.โ
โGreat art demands the artist to leave their self behind and let their work speak for itself.
Asal-usul & Konteks Budaya
Frasa ini tidak memiliki asal-usul etimologis tunggal yang baku dalam kamus formal (KBBI). Penggunaannya bersifat konseptual dan sangat bergantung pada konteks sastra atau ajaran spiritual (seperti konsep 'fana' dalam tasawuf atau 'anatta' dalam Buddhisme) yang menekankan pentingnya meniadakan 'aku' untuk mencapai kebenaran atau kedamaian.